Minggu, 09 September 2012

Intelejen dianggap lemah??????

sebagaian pengamat teroris di Indonesia beranggapan bahwa intelejen Indonesia "tumpul" dan banyak dari pemberitaan minggu-minggu ini melemparkan setmand Intelejen Indonesia "tumpul".

tahu kah anda bahwa intelejen di negara ini sebenarnya sangat berhasil itu dapat di buktikan dengan pencegahan yang selalu di lakukan untuk mencegah terjadinya tindak teror yang akan terjadi..mengapa sebagaian orang beranggapan Intelejen "tumpul" buktinya mereka dapat mncegah tindakan terduga teroris yang akan melaksanakan tindakannya di cegah..jangan lah kita membentuk opini yang menyesatkan publik apakah anda tidak melihat korban yang berjatuhan.

kalau memang Intelejen itu memang "tumpul" apa solusi yang dapat kita beri masukan???
jangan hanya mencari-cari kesalahan aparat negara, kalau terus di lakukan pemberitaan yang selalu menduga terjadinya konspirasi secara tidak langsung opini yang terbanguan di masyarakat akan menjadi opini publik yang negatif sehingga timbul ketidak percayaan akan kinerja aparat negara, kita harusnya memberikan apresiasi yang tinggi kepada aparat yang telah berhasil mencegah,mengungkap tindakan terorisme di negara kita ini dan kita harusnya mendukung dalam memerangi teroris ini karena ini adalah tanggung jawab kita bersama.

cara-cara kita mendukung kinerja aparat negara dan Intelejen kita sebagai berikut :
  1. Kenalilah (minimal) tetangga di samping kiri-kanan kita. Apakah kita sudah mengenal mereka? "Kenal" disini bukan berarti hanya sebatas tahu nama serta kerjaan formal mereka semata, tetapi "kenal" disini adalah kenal dalam arti yang lebih luas, mis: aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh mereka. Karena apabila pekerjaan mereka formal/tetap ataupun punya usaha sendiri, maka pola aktivitas mereka akan selalu berulang dan secara tidak sadar kita akan menjadi tahu kapn mereka meninggalkan rumahnya serta kapan pula mereka akan pulang. Karena berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, kelompok teroris mempunyai aktivitas yang tidak berpola (polanya acak), karena memang mereka sedang merencanakan suatu pemufakatan jahat yang semuanya tergantung dari sikon yang ada.
  2. Amatilah tindakan atau sikap sosial mereka terhadap lingkungan, mis: apakah mereka bersosialisasi dengan warga sekitar secara rutin? apabila ada acara kerja bakti, rapat RT, 17-Agustusan, halal bihalal, dll. Kelompok teroris biasanya kurang bersosialisasi dengan segala aktifitas warga di sekitarnya, karena biasanya selain mereka hanya hidup mengontrak (rumah), mereka juga cenderung tidak mau dikenali (wajahnya) oleh orang banyak.
  3. Kenalilah juga kerabat serta tamu-tamu yang biasa datang ke rumah mereka, sekali lagi "kenal" disini bukan berarti kita harus bersikap kurang ajar dengan langsung menanyakan kepada tetangga kita tsb setiap mereka kedatangan kerabat atau tamu-tamunya, tetapi "kenal" disini adalah tahu kapan mereka sering berkunjung (apakah siang hari? atau malam?). Lalu setelah berkunjung, apakah mereka bersikap "wajar" (mis: dengan membiarkan pintu depan terbuka sebagaimana layaknya orang berkunjung). Karena teroris biasanya melakukan kunjungan di waktu malam hari, sehingga secara fisik (wajah) mereka tidak terlalu bisa dikenali lantaran hari yang gelap, kalaupun melakukan kunjungan di siang hari, biasanya pintu depan rumah yang dikunjungi selalu ditutup guna menghindari diketahuinya aktivitas yang sedang mereka lakukan di dalam rumah.
  4. Ciri-ciri umum lainnya adalah tempat tinggal mereka biasanya bersifat hanya sementara alias ngontrak atau kost.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar